Minggu, 05 November 2017

22.43 , No comments


Biogas dari Kotoran hewan
Pembuatan Reaktor Biogas di Kec. Putri Hijau
Biogas adalah gas mudah terbakar  (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. 

Disamping  itu juga sangat  mungkin menyatukan saluran  pembuangan di kamar mandi atau WC ke dalam sistem Biogas. Di daerah yang banyak industri pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan  pindang atau brem  bisa menyatukan saluran limbahnya ke dalam sistem Biogas, sehingga  limbah industri  tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini memungkinkan karena limbah industri tersebut diatas berasal dari bahan organik yang homogen.


Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur  yang dibutuhkan oleh  tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari  bio-gas telah diujicobakan pada tanaman jagung, bawang merah dan padi.

Beberapa keluarga yang  telah menggunakan Biogas  sudah tidak  membutuhkan pembelian  bahan bakar karena sudah bisa terpenuhi kebutuhannya dari kotoran ternak yang dipeliharanya. Bagi mereka yang bisanya mencari/memotong  kayu bakar  di hutan kini  waktunya bisa  dipergunakan untuk  kegiatan yang memberikan nilai tambah ekonomis, dengan pekerjaan sambilan yang lain.



Kotoran  ternak  menjadi  sangat  berharga, oleh  karena itu mereka  akan rajin  merawat  ternaknya sehingga kondisi kandang menjadi bersih dan kesehatan  ternak menjadi   lebih baik, pada  akhirnya membawa keuntungan dengan penjualan ternak yang lebih cepat dan berharga lebih tinggi. Keluarga petani yang biasanya menggunakan pupuk kimia untuk menanam, kini bisa menghemat   biaya  pro-produksi pertaniannya karena sudah tersedia pupuk organik dalam jumlah yang memadai dan kuali-tas pupuk yang lebih baik.


Aspek Sosio-
kultural penerapan teknologi biogas. Menerapkan teknologi baru   kepada  masyarakat desa merupakan suatu tantangan  tersendiri akibat rendahnya  latar   belakang pendidikan, pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki. Terlebih lagi pada penerapan teknologi biogas. Tidak pernah terbayangkan  bahwa  kotoran  lembu  bisa  menghasilkan api. Selain  itu juga  mereka merasa  jijik terhadap makanan yang dimasak menggunakan Biogas. Di desa Plangkrongan, perlu waktu 2 tahun hanya untuk membangun sebuah unit Biogas  percontohan. Metode yang   dipergunakan untuk mensosialisasikan Biogas adalah dengan memilih sebuah keluarga  sebagai   Khalayak Sasaran  Antara (KSA) yang diharapkan menjadi pelopor dan bisa  mengembangkan  Biogas itu kepada  Masyarakat sebagai Khalayak Sasarannya.


Untuk di Provinsi Bengkulu telah dikembangkan sejak tahun 2011 di Desa Sulau Kedurang Ilir Kabupaten Bengkulu Selatan, Desa Pal 30 Kecamatan Lais, Desa Padang Jaya Kecamatan Padang jaya. dan Desa Karya Bakti Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara.





(Majalah Kampus Genta Edisi 117, Thn XXXIII /27 Maret 1998 halaman 35-38) 
 

Jika anda membutuhkan informasi lebih jauh tentang teknologi biogas, silahkan ajukan melalui form komentar di bawah ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke situs ini. Silahkan isi komentar/tanggapan anda

Recent Post

Popular Posts

Blog Archive