Sabtu, 04 November 2017

18.08 2 comments
Pemerintah Desa Kungkai Baru, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu mampu meraup pemasukan Rp33 juta dari sektor pariwisata yang dikembangkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bahari Sejahtera. Ini murni belum ada tambahan pengembangan modal dari Dana Desa.

"Pengelolaan objek wisata melalui BUMDes mampu menyumbang Rp33 juta untuk pendapatan asli desa (PAD) tahun 2016," kata Ketua BUMDes Bahari Sejahtera Desa Kungkai Baru, Kabupaten Seluma, Slamet Riyadi,

Ia mengatakan objek wisata yang ditawarkan di Desa Kungkai Baru adalah wahana air dengan fasilitas perahu karet di muara Sungai Kungkai.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Kungkai Baru Kecamatan Air Periukan ini sukses mengelola Pantai Cemoro Sewu yang terletak di Desa Kungkai Baru. Objek wisata itu, kini digadang menjadi wisata andalan Kabupaten Seluma dan bisa mendatangkan pendapatan asli daerah (PAD) bagi daerah. BUMDEs sudah menyiapkan fasilitas tempat mandi untuk ganti, kemudian toilet, serta mushala di sana yang dibutuhkan pengunjung.


Dengan pengembangan kawasan wisata ini diharapkan lebih banyak wisatawan yang datang. Bukan hanya dari daerah saja, melainkan juga dari luar daerah di Provinsi Bengkulu. Jika dikelola dengan baik, semua objek wisata yang ada bukan hanya bisa mendatangkan pendapatan bagi desa, tetapi juga bagi daerah.

Disamping untuk wisata, ekositem pantia cemara dan mangrove yang masih terjaga juga memiliki fungsi sebagai pengendalian bencana. Fungsi ekosistem pantai dan mangrove berperan penting dalam mengurangi resiko bencana di daerah pesisir. Beberapa bentuk bencana yang dapat terjadi adalah abrasi pantai, rusaknya habitat satwa. Umumnya, kerusakan hutan sangat erat kaitannya dengan penduduk yang bertempat tinggal di sekitar kawasan. Salah satu daerah yang terdampak langsung akibat kemunduran tersebut adalah Desa Kungkai Baru di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Daerah ini adalah Desa yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Pasar Ngalam yang memiliki panjang batas 34.037 km dan luas 256,92 ha (Antara, 2006). Walaupun demikian, deforestasi kawasan dengan sawit tetap meningkat yang berakibat terganggunya habitat satwa di daerah tersebut seperti siamang dan penyu.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Mahasiswa Kehutanan Universitas Bengkulu pada daerah tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Kungkai Baru memiliki persepsi yang baik terhadap kawasan Cagar Alam Pasar Ngalam (Dewa 2014). Namun upaya langsung masyarakat untuk memperbaiki fungsi kawasan masih sangat terbatas. Beberapa hambatan yang ditemukan adalah ketidakmampuan masyarakat untuk menyediakan bibit pohon dan ketrampilan yang rendah dalam proses penanaman pohon untuk daerah mangrove dan pantai. Akibatnya beberapa kegiatan penanaman yang dilakukan sebelumnya memiliki tingkat keberhasilan yang rendah.

Harapan kita adalah disamping dapat menghasilkan uang diharapkan adanya pengelolaan dalam bentuk pelestarian. Sehingga dapat menjadi ekowisata. Pengujung dapat mendalami bagaimana pengelolaan dan pemeliharaan cemara dan mengrove, mereka dapat dapat berwisata sekaligus belajar.

 

2 komentar:

  1. Selamat Siang. Tidak sengaja saya mampir ke blog anda, ternyatga isi-isinyasangat informatif ddan banyak artikel yang sangatlah bermanfaat.
    Minta isin memboookmark dan sharing beberapa postingan ke sosmed saya ya
    sekaligus biar blog ini tambah banyak pengunjungnya.
    Mudah mudahan selalu di perbaharui terus ya blognya.Salam Hangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Anonymous telah berkunjung. Silahkan sharing semoga bermanfaat.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung ke situs ini. Silahkan isi komentar/tanggapan anda

Recent Post

Popular Posts

Blog Archive